Kasus Diabetes pada Remaja Melonjak Tajam, Pola Makan Jadi Sorotan
ptaskes.com – Dunia kesehatan Indonesia kembali di kejutkan dengan data terbaru mengenai penyakit tidak menular. Kasus diabetes pada remaja di laporkan mengalami lonjakan yang sangat tajam pada awal tahun 2025 ini. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mencatat peningkatan pasien usia belasan tahun yang harus menjalani terapi insulin rutin.
Fenomena ini menjadi peringatan keras bagi para orang tua dan pemerintah. Penyakit yang dulunya identik dengan orang lanjut usia kini mulai menggerogoti generasi muda. Pergeseran pola penyakit ini di nilai sangat mengkhawatirkan bagi masa depan demografi kesehatan nasional.
Konsumsi Gula Berlebih Sebagai Pemicu Utama
Penyebab utama dari meningkatnya kasus pada remaja tidak lain adalah gaya hidup dan pola makan. Konsumsi minuman manis kemasan dan makanan cepat saji menjadi penyumbang terbesar.
Minuman kekinian dengan kadar gula tinggi sangat mudah di akses oleh anak sekolah. Padahal, batas aman konsumsi gula harian sering kali di langgar hanya dengan satu gelas minuman tersebut.
Selain itu, kebiasaan mengonsumsi camilan tinggi karbohidrat tanpa di imbangi serat juga memperburuk keadaan. Pankreas di paksa bekerja ekstra keras untuk memproses lonjakan gula darah yang terjadi terus-menerus.
“Lidah anak-anak kita sudah terbiasa dengan rasa yang sangat manis. Ini bom waktu yang akhirnya meledak sekarang,” ujar seorang spesialis endokrinologi anak dalam seminar kesehatan di Jakarta Pusat.
Gaya Hidup Sedenter Memperparah Kondisi
Faktor lain yang membuat kasus diabetes pada remaja semakin tak terkendali adalah gaya hidup sedenter atau kurang gerak. Kemudahan teknologi membuat remaja lebih betah duduk berjam-jam di depan layar gawai.
Aktivitas fisik seperti berjalan kaki atau berolahraga semakin di tinggalkan. Akibatnya, kalori yang masuk ke dalam tubuh tidak terbakar dan menumpuk menjadi lemak jahat.
Obesitas menjadi pintu masuk utama bagi diabetes tipe 2. Data menunjukkan bahwa mayoritas remaja yang terdiagnosis diabetes memiliki indeks massa tubuh di atas normal.
Oleh karena itu, sekolah dan orang tua didorong untuk kembali menggalakkan aktivitas luar ruangan. Mengurangi screen time bisa menjadi langkah awal yang efektif untuk mencegah obesitas.
Gejala Awal yang Sering Di abaikan
Banyak orang tua yang terlambat menyadari kondisi anaknya. Padahal, deteksi dini sangat penting untuk menekan risiko komplikasi dari kasus diabetes pada remaja ini.
Ada beberapa gejala klasik yang sering kali luput dari perhatian. Pertama, anak menjadi sering merasa haus yang berlebihan dan sering buang air kecil, terutama di malam hari.
Kedua, nafsu makan meningkat drastis tetapi berat badan justru turun tanpa sebab yang jelas. Ketiga, anak terlihat sering lemas, mudah mengantuk, dan sulit berkonsentrasi saat belajar.
Jika menemukan tanda-tanda tersebut, orang tua wajib segera membawa anak ke fasilitas kesehatan terdekat. Pemeriksaan kadar gula darah sederhana bisa menyelamatkan nyawa mereka.
Link Website : https://www.jayhtanenbaum.com/contact/
Upaya Pemerintah Menekan Angka Kasus
Kementerian Kesehatan tidak tinggal diam melihat tren negatif ini. Pemerintah berencana memperketat aturan mengenai label pangan pada makanan kemasan.
Cukai untuk minuman berpemanis dalam kemasan (MBDK) juga akan segera di terapkan secara efektif. Kebijakan ini di harapkan dapat mengurangi konsumsi minuman manis di kalangan pelajar.
Selain itu, edukasi gizi seimbang gencar di lakukan melalui posyandu remaja dan unit kesehatan sekolah (UKS). Kesadaran akan bahaya gula harus di bangun sejak dini agar generasi mendatang lebih sehat dan produktif.
