Info Kesehatan

Waspadai, Hipertensi Merusak Organ Tubuh Secara Diam-diam

02/05/12



hipertensiSemakin pesatnya teknologi dan mordernisasi, dapat mengubah gaya hidup dan pola makan  yang sering tidak disadari berakibat buruk terhadap kesehatan seseorang. Hipertensi atau tekanan darah tinggi misalnya, kini tergolong penyakit tidak menular yang paling banyak diderita masyarakat. Namun, sayangnya tidak semua orang menyadari bahwa dirinya menderita hipertensi.

Hal itu, menurut Ketua Perhimpunan Nefrologi Indonesia Prof dr Suhardjono, karena hipertensi tidak menunjukan gejala. Tidak sedikit orang yang datang ke dokter baru diketahui mempunyai hipertensi, bahkan banyak juga yang sudah mengalami komplikasi organ.

Untuk mengetahui apakah seseorang mengalami hipertensi, tidak bisa diduga-duga begitu saja, tetapi harus diukur dengan alat pengukur tekanan darah. Tekanan darah yang normal berkisar antara 120-110/80-70 mmHg. Lebih dari itu, maka kita harus waspada Karena jika terjadi peningkatan tekanan darah berkepanjangan akan merusak pembuluh darah di sebagian besar tubuh.

Pada tahap awal, hipertensi memang tidak menunjukkan gejala, tetapi jika tekanan darahnya mencapai 250, bisa menimbulkan gejala seperti kejang dan pandangan kabur. Bagi seseorang dengan tekanan darah di atas 160 sudah harus minum obat hipertensi. Dan jika seseorang sudah terkena hipertensi, seumur hidupnya harus minum obat. Jika tidak minum obat secara teratur maka hipertensinya tidak terkontrol dan akan berakibat buruk bagi kesehatan dirinya.

Organ tubuh seperti ginjal, jantung dapat rusak akibat hipertensi yang tidak diobati dengan benar, Bayangkan, di dalam ginjal terdapat jutaan pembuluh darah kecil yang berfungsi sebagai penyaring produk sisa darah yang harus dikeluarkan . Apabila pembuluh darah di ginjal rusak, maka kemungkinan aliran darah berhenti membuang limbah dan cairan esktra dari tubuh. Jika cairan melimpah dalam pembuluh darah, maka dapat meningkatkan tekanan darah. “Tekanan darah yang begitu hebat dapat merusak dinding-dinding pembuluh darah dan juga bisa merusak jantung,” kata Prof Suhardjono.

Melihat risiko yang tinggi itu, sangatlah “miris” jika hanya sedikit saja orang yang mengabaikan kesehatannya. Saat ini prevalensi hipertensi di Indonesia 31,7 persen atau sepertiga penduduk Indoneisa, sekitar 50 juta lebih penduduk menderita hipertensi. Dari jumlah itu, 50 persennya tidak mengetahui dirinya hipertensi.Sedangkan dari 50 persen yang tahu menderita hipertensi, separuhnya tidak minum obat. “Dan parahnya lagi, dari 50 persen yang minum obat itu, hanya separuhnya yang minum obat secara teratur. Ini jadi masalah,” ungkap Prof Suhardjono

Perlu upaya prevensi

            Meskipun penderita hipertensi harus minum obat seumur hidupnya, tetapi kualitas hidupnya masih dijaga dengan mengatur pola makan dan gaya hidup sehaat. Sementara untuk mencegah agar kita terhindar dari risiko hipertensi, maka sejak dini sudah menjalani hidup sehat, antara lain, kurangi konsumsi garam, tidak merokok, olah raga fisik minimal 30 menit sehari, dan perbanyak makan sayur dan buah-buahan.

            “Masyarakat pun harus terus diberikan edukasi agar menjaga kesehatannya. Sosialisasi untuk mencegah hipertensi dan penyakit lain yang dapat dicegah dengan menjalani pola makan dan gaya hidup harus terus diberikan kepada masyarakat. Kepedulian dan partisipasi masyarakat sangat penting untuk menjaga kesehatannya secara mandiri,” ujarnya.

Oleh karenanya, sejak kecil seharusnya dibiasakan makan yang sehat dan bagi yang sudah berusia di atas 40 tahun sudah mulai mengecek tekanan darahnya. Bagi orang yang berusia di atas 50 tahun ke atas akan semakin berisiko terkena hipertensi. Maka disarankan untuk melakukan cek kesehatan (check up) secara rutin.

Apalagi jika orangnya gemuk, lebih berisiko terkena penyakit sindrom metabolik, seperti kolesterol tinggi, gula darah tinggi, dan hipertensi.Semua itu, dapat berujung pada gagal jantung, gagal ginjal, dan berakhir pada kematian. “Oleh karenanya, mulailah dari sekarang mengubah pola hidup dan gaya hidup yang sehat,” saran Prof Suhardjono.

Pengelolaan hipertensi di level pelayanan kesehatan dasar sangatlah penting. Dokter di Puskesmas maupun dokter keluarga harus dapat mengatasi kasus hipertensi. “Dokter bahkan tenaga kesehatan di primary health care dapat mengatasi masalah hipertensi, yang dirujuk ke dokter spesialis kalau sudah berat dan komplikasi,” ujarnya.

Apalagi, sekarang ini PT Askes bersama organisasi profesi terkait telah membuat buku pedomannya. Diharapkan langkah ini dapat mengurangi risiko hipertensi yang lebih berat bahkan dapat mencegah agar masyarakat tidak sampai kena hipertensi. Karena dokter umum harus dapat menjaga masyarakat di lini pertama, sedangkan dokter spesialis yang hanya sedikit tidak mungkin menangani separuh penduduk Indonesia yang mengalami hipertensi.

            Prof Suhardjono menyarankan agar masyarakat yang menderita hipertensi disiplin minum obat sesuai anjuran dokter. Soal jamu atau obat herbal, dia tidak menyarankannya. Menurutnya, jamu kurang pas untuk mengobati penyakit kronik seperti hipertensi. “Jamu tidak pas untuk pengobatan penyakit kronik, tetapi mungkin bisa untuk penyakit akut, seperti batuk,” ujarnya mengakhiri obrolannya bersama Buletin Info Askes.

Box

Tips Sehat untuk Mencegah Hipertensi

Tekanan darah dalam tubuh harus tekontrol, karena tekanan darah menjadi tenaga untuk mengalirkan darah ke seluruh tubuh. Jika seseorang menderita tekanan darah tinggi atau hipertensi maka berisiko merusak pembuluh darah dan jika tidak diobati atau diatasi secara dini, maka akan dapat merusak organ tubuh yang fital seperti jantung dan ginjal.

Untuk mencegah agar terhindar dari hipertensi dan menjaga tetap sehat penderita hipertensi agar tidak mengalami komplikasi, berikut ini antara lain tips-tipsnya.

1. Mengatur pola makan seperti :

-          mengurangi berat badan yang berlebihan dengan diet yang terukur

-          membatasi konsmsi garam dan sumber makanan yang mengandung natrium/sodium

-          memperbanyak konsumsi tinggi kalium, kalsium, magnesium, omega-3, makanan tinggi serta dan vitamin C

-          menghindari merokok

-          mengurangi makanak berlemak dan kolesterol

-          mengurangi konsumsi alkohol, soda, dan kafein

-          mengkonsumi makanan sehari-hari secara bervariasi

2. Melakukan aktivitas fisik, seperti olah raga yang teratur dan terukur, minimal 30 menit sehari, agar peredaran darah lancar. Namun, bagi penderita hipertensi sebaiknya konsultasi dokter terlebih dahulu agar jenis olah raganya tepat sesuai dengan kondisi penderita hipertensi.

3. Istirahat yang cukup untuk mengembalikan kebugaran tubuh

4. Bersantai dan bersilaturahmi bersama keluarga, kerabat, teman, untuk keseimbangan jiwa. Tidur yang nyaman dan bersosialisasi dapat menyeimbangkan hormon yang dihasilkan tubuh sehingga tubuh lebih sehat. Dan, selalu dekat dengan Sang Pencipta.

 

 

 

Isi Komentar